Semesta Bicara, Bersama kopi menambah inspirasi.

Semesta Bicara, Bersama kopi menambah inspirasi.

Semesta sebagai sebuah upaya agar tidak hanya menjadi tempat nongkrong asik di Purwokerto tetapi juga menjadi tempat diskusi yang mencerdaskan maka terbitlah gagasan untuk membuat acara talkshow interaktif bernama Semesta Bicara. Diawali sejak awal bulan Oktober dengan memperingati hari kesehatan mental sedunia pada tanggal 10 Oktober 2019, Semesta bicara mengambil tema “Apakah patah hati termasuk penyakit mental”. Mengundang beberapa narasumber seperti Hendri Prayogo mahasiswa aktif semester 7 fakultas psikologi UMP, Gustiratri Intan mahasiswa aktif semester 1 fakultas psikologi UMP, dan Alfian Ihsan sebagai pengamat patah hati.

Semesta bicara episode dua dilaksanakan pada 18 Oktober 2019 dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, Oktober diambil sebagai bulan bahasa didasari pada pelaksanaan Sumpah Pemuda yang mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bertajuk “Puisi sebagai media mengobati patah hati” mendaulat Dimas Indiana Senja dosen muda IAIN Purwokerto sekaligus penyair patah hati, kemudian ada Aditya Setiawan penggiat Komunitas Penyair Institute di UMP, dan Nur Khasannah mahasiswa aktif program studi bahasa inggris UMP.

Pada episode ketiga Semesta Bicara bekerjasama dengan Pesantren Darussalam Dukuhwaluh membincang santri di era millennial sebagai peringatan hari santri pada 22 Oktober 2019. Menghadirkan Gus Shofiyullah selaku perwakilan ustadz dari Pesantren Darussalam didampingi oleh Muhammad Abdin santri putra Pesantren Darussalam sekaligus mahasiswa prodi PGSD UMP.

Satu hal yang menarik perhatian sekaligus tidak dimiliki oleh kedai kopi yang lain, Semesta Bicara episode empat dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda diadakan secara dua hari berturut-turut. 27 Oktober 2019 diadakan bincang seputar pelantikan kabinet menteri Indonesia maju dengan menghadirkan ketua organisasi ekstra yang ada di UMP seperti PMII, IMM, KAMMI, GMNI, dan FMN. Kemudian pada 28 Oktober 2019 membincang pemuda dan toleransi yang diinisiasi oleh HMI dan GMKI cabang Purwokerto bekerjasama dengan Djarum Superversity.

Memasuki bulan November yang oleh Semesta diberi nama Lovember, Semesta Bicara episode lima mengundang dua narasumber yang hidupnya hampa tanpa cinta Fajar dan Sendy Chanan untuk membincang Filsafat Cinta. Fajar menitik beratkan pada narasi seni tentang mencintai ala Erich Fromm dan Sendy lebih memilih jalan sunyi dengan mencintai dalam diam ala Plato. Meskipun diskusi kali ini terlihat begitu ramai, percayalah hati kedua narasumber tetap sepi.

Memasuki episode ke enam, Semesta Bicara bekerja sama dengan Generasi Muda Forum Kerukunan Umat Beragama Banyumas dan Forum Persaudaraan Iman Banyumas mengambil tema Tat Tvam Asi (kamu adalah aku, kamu adalah aku) sebagai peringatan hari toleransi internasional. Menghadirkan Tegar Roli generasi muda Muhammadiyah mewakili umat Islam, Robertus Panca Aditya selaku pengurus pusat pemuda katolik, Budi Rohadi mewakili kelompok agama Konghucu, dan Amar Kazet yang merupakan pemuda dari kelompok penghayat kepercayaan. 

Pada episode ketujuh Semesta Bicara menghadirkan dua peraih beasiswa studi ke luar negeri, yang pertama adalah Feisal Aziez dosen bahasa inggris Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang kini sedang menjalani studi doktoral di Hungarian University dengan konsentrasi Multilingualism sebagai awardee atas Stipendium Hungaricum Scholarship. Narasumber kedua adalah Hari Widi Utomo dosen bahasa inggris di Institute Teknologi Telkom Purwokerto, beliau pernah tercatat sebagai mahasiswa Hiroshima University di jurusan Educational Development sebagai awardee atas JASSO Scholarship dari kementerian pendidikan jepang.

Tercatat sudah tujuh episode dari perjalanan Semesta Bicara yang tidak disadari menjadi karakter khas dari Semesta sebagai kafe yang mentradisikan budaya diskusi dan akademik. Hal ini akan selalu terus diupayakan dengan episode-episode selanjutnya dari Semesta Bicara yang pastinya akan selalu variatif dengan membahas isu-isu kontemporer atau beragam pengetahuan yang sering luput dari bangku perkuliahan. Jadi jika sobat purwokerto mencari kafe yang menyediakan kopi dan ilmu dalam satu meja, Semesta lah jawabannya.

Tinggalkan Balasan

×
×

Cart