Semesta Bicara, “How to Study Abroad?”.

Semesta Bicara, “How to Study Abroad?”.
how study abroad

Selasa 26 November 2019, Semesta Bicara episode ke delapan hadir dengan tema How To Study Abroad bekerja sama dengan dua organisasi mahasiswa di UMP yaitu English Student Association (ESA) dan English Voice Organisation (EVO). Tema ini hadir sebagai jawaban atas permintaan dari sobat semesta yang tergabung dalam English Sharing Session sebagai kelompok studi bahasa inggris di Semesta.

Menghadirkan dua awardee dari scholarship dan negara tujuan yang berbeda, Feisal Aziez. M.Pd. awardee Stipendium Hungaricum Scholarship di University of Pannonia dengan konsentrasi Multilingualism Doctoral School. Beliau tercatat sebagai dosen program studi bahasa inggris di Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Pemateri kedua adalah Hari Widi Utomo, M.Ed., peraih beasiswa JASSO Scholarship di Hiroshima University dengan konsentrasi Educational Development. Beliau merupakan dosen bahasa inggris di Institut Teknologi Telkom Purwokerto.

Semesta bicara kali ini dipandu oleh Amalia Maulaya mahasiswa bahasa inggris semester lima yang merupakan pengurus dari ESA UMP. diawali dengan penjelasan dari Feisal Aziez tentang persyaratan umum jenis beasiswa apapun yaitu kemampuan tes bahasa inggris berupa TOEFL atau IELTS. Salah satu dari dua jenis tes ini pasti akan menjadi persyaratan paling atas dari sebuah beasiswa.

Syarat selanjutnya adalah surat rekomendasi dari lembaga pendidikan sebelumnya yang biasanya merupakan pernyataan dari dosen pembimbing akademik yang menjelaskan kenapa mahasiswanya ini layak untuk mendapatkan beasiswa tersebut dan apa keuntungan yang akan didapatkan bagi pemberi dan penerima beasiswa.

Selain dua hal diatas,  ada empat hal lain yang harus disiapkan yaitu rencana penelitian terkait program studi yang dituju, motivational letter yang berupa motivasi terhadap program studi dan cita-cita pribadi ke depan,  curriculum vitae dan paspor.

Dua hal berbeda yang bisa didapatkan dari kedua pemateri adalah karena mereka kuliah di dua negara yang berbeda, pasti memiliki kebudayaan dan karakter yang berbeda. Feisal Aziez menyampaikan bahwa Hungaria termasuk sepuluh besar negara tujuan beasiswa Erasmus. Hungaria sebagai negara yang sedang berkembang dan tidak terlalu padat penduduk sehingga menjadi tempat yang tenang untuk belajar dan bersosialisasi dengan sesama penerima beasiswa.

Pemaparan selanjutnya oleh Hari Widi Utomo dengan menitikberatkan pada aspek kedisiplinan yang merupakan karakter kuat bagi setiap individu di jepang. Beliau bercerita tentang bagaimana proses penyesuaian terhadap kultur disiplin yang lumayan menyita energi di bulan-bulan pertama saat tinggal di Jepang. Beliau tinggal di Jepang bersama istrinya yang juga mendapatkan beasiswa di kampus yang sama bercerita tentang bagaimana saat pertama datang di Jepang sedang hamil tua kemudian betapa struggle nya mereka berdua dalam mengasuh bayi dan mengatur jadwal kuliah.

Semesta bicara ditutup dengan tiga pertanyaan yang menggali lebih dalam tentang budaya akademik di masing-masing kampus mereka berdua, dan bagaimana mengatasi shock culture khususnya tentang beberapa hal yang tidak seiring dengan nilai keislaman.

Tinggalkan Balasan

×
×

Cart