Semesta Bicara Mengkampanyekan Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

Sebagai andil dari isu internasional terkait kampanye hari anti kekerasan terhadap perempuan, Semesta Bicara mengadakan diskusi bersama tiga aktivis perempuan pemerhati kajian gender yaitu Reni Yulia Ambarwati dari PC PMII Purwokerto, Nisfi Maulida dari PC IMM Banyumas, dan Fatimah Zahrah seorang alumni Universitas Paramadina yang pernah aktif di Komnas Perempuan.

Diawali oleh Reni menyoal tentang kekerasan verbal terhadap perempuan yang sering kita temui dan anggap sebagai suatu hal yang wajar. Panggilan menggoda atau yang bahasa kerennya adalah “cat calling”, menggunakan bagian tubuh sebagai bahan bercandaan yang biasa disebut dengan “body shaming”, atau menyebut bagian intim perempuan sebagai kata umpatan merupakan contoh kekerasan verbal yang hampir setiap hari terjadi di masyarakat kita.

Disambung oleh Nisfi yang spesifik terhadap perilaku berpacaran yang sebagian dari mereka menjalaninya dengan pola relasi kepemilikan absolut. Dimana si cowok menganggap bahwa dia bisa mengatur dan mengendalikan ceweknya. Seperti membatasi pergaulannya, lalu harus tahu kemana saja dia pergi dan dengan siapa, melarang ceweknya berkomunikasi dengan teman cowoknya yang lain. Ini adalah bentuk pacaran yang tidak sehat, jika sobat semesta mengalami hal itu hari ini maka lebih baik tinggalkan pacarmu. Kamu berhak menjalani hidup lebih baik dari itu dan masih banyak cowok lain yang berpikiran terbuka.

Sebagai pamungkas, Fatimah berbicara secara detail tentang budaya menyalahkan korban dalam hal ini adalah perempuan tatkala terjadi kasus pelecehan seksual. Fatimah mengingatkan kita pada kasus Agni mahasiswi dari universitas ternama di Yogyakarta. Sebagai penyintas dia tidak mendapatkan keadilan dan perlindungan yang baik bahkan dari institusi tempat dimana dia belajar.

Budaya patriarki yang mengakar kuat di masyarakat Indonesia mengafirmasi bahwa perempuan turut andil dalam terjadinya pemerkosaan, seperti menyalahkan korban bahwa dia memakai pakaian yang terbuka dan memperlihatkan lekuk tubuh, menyalahkan korban kenapa tidak melawan, atau mengatakan bahwa perempuan tidak seharusnya pulang larut malam. Lalu mengapa tidak secara sederhana kita katakan kepada para lelaki bahwa “Jangan memperkosa!”. Ini tentunya akan lebih sederhana untuk direpetisi dan disampaikan kepada para lelaki bahwa perkosaan selain sebagai hal yang tabu, dilarang oleh norma agama pula berdampak buruk terhadap psikologi korban.

Fatimah juga menjelaskan bahwa kekerasan seksual bukan serta merta hanya persoalan seksual melainkan tentang relasi kuasa. Pelaku merasa memiliki kuasa lebih besar sehingga bisa memaksakan kehendak kepada korban. Kekerasan seksual terjadi bukan karena unsur ketidak sengajaan, khilaf atau kejadian tiba-tiba. Kekerasan seksual lebih merupakan sesuatu yang terjadi karena direncakan dan pelaku sangat sadar bahwa dia memiliki kuasa, kesempatan serta pembacaan mengenai korbannya.

Melawan budaya perkosaan harus diawali dari diri sendiri, menghindarkan diri dari upaya menguasai secara verbal maupun fisik terhadap perempuan. Menghormati ruang fisik perempuan dengan tidak menyentuh secara tiba-tiba dan sembarangan bahkan di bagian tubuh terluar. Berpikir kritis terhadap pesan media tentang perempuan, pria, hubungan, dan kekerasan. Jika seseorang teman berbicara denganmu tentang perkosaan maka beri dia dukungan dan respon secara serius.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *